about my life

Waktu terus berjalan, belajarlah dari masa lalu,
bersiaplah tuk masa depan, selalu berikan yg terbaik untuk hari ini.
Selalu berpikir positif, jadikan kegagalan hari ini sebagai pengalaman hidup yg berharga tuk menjalani hari esok.


So buat temen-temen mari kita Bersahabat
follow me twitter @robin_ys
facebook http://www.facebook.com/robin.ys

Rabu, 12 Februari 2014

Pragmatis atau Idealis. itukah aku




assalamuikum
hai bro, apa kabar ?
sudah lama tak berjumpa, alhamdulillah setelah sibuk sibuknya menata hati sebagai mahasiswa semester 5 pend. biologi yang katanya paling neraka di banding semester lainya akhirnya saya diberi kesempatan untuk menulis lagi bagian kecil dari sebuah kehidupan. 

ini berkiatan dengan kabar baik dari ip semester ini, alhamdulillah dengan usaha keras dan doa orang tua pastinya saya mendapatkam ip yang cukup memuaskan dan dapat mendongkrak ipk saya, berbicara tentang ipk pastilah tak jauh dari sebuah subyak yang tak asing lagi yang mewarnai dunia dengan aksi aksi yang menurut saya begitulah. tak lain tak bukan mahasiswa.

Sebelumnya saya meminta maaf kepada semua pihak terkait jika argument saya bertentangan dengan kalian.bermula dari sebuah peryataan "
“ Mahasiswa"
kerjanya demo, kritik, menyalahkan pemerintah, selebihnya nol!”
" Mahasiswa"
“Malas ah aksi jalanan mulu…toh percuma juga, gak bakal didengar pemerintah…..”
“Mending kita belajar yang bener, bangun bangsa dengan prestasi kita…”
“Buat apa aksi turun ke jalan, aksi intelektual, aksi pengabdian ke masyarakat? Toh negeri ini masih saja seperti ini, kita gak punya power, legitimasi…percuma!!!”

bukan bermaksud  menyindir seseorang , ini kehidupan mahasiswa yang saya termukan saat ini, belum lagi dengan embel embel partai X yang selalu di agung agungkan atas nama yang keadilan kemakmuran bahkan ada yang menyrempet ketuhanan yang saya tidak tahu apa maksudnya, mengapa mahasiswa meski dilibatkan, biarlah urusan partai politik meraka saja, apa tugas mahasiswa jadi bin ?? "MENGAWASI" mahasiswa seharusnya independent terhadap partai politik mana pun. Itu menurut saya, dan saya punya hak bicara. Cukup untuk yang ini ,sebenarnya masih banyak unek-unek saya yang mau saya tuangkan, tapi biarlah.

berkaitan kedua pernyataan diatas ada menarik kita bahas, Hai kamu mahasiwa, pragmatiskah kamu ?? atau idealiskah kamu ??

Pragmatis atau idealis sebetulnya adalah permasalahan klise. Sebetulnya, apakah yang disebut dengan pragmatis itu sendiri dan apakah idealis itu sendiri? Kadang-kadang kita melihat salah satu sikap dan jadi melabeli mereka dengan hal itu. Tapi, di sisi lain, mereka bersikap sebaliknya.

Sebagai contoh yang marak adalah seorang mahasiswa yang terkenal sebagai aktivis mahasiswa, membawa nama rakyat kecil, turun ke jalan, menjembatani kepentingan rakyat dengan penguasa, dan sederet aktivitas sosial lainnya, tetapi begitu ia lulus, ia pun bekerja di perusahaan besar, entah itu perusahaan nasional atau malah asing. Jika perusahaan asing, siap-siap saja kata-kata cibiran muncul dari teman-teman seperjuangan di masa kuliah. Mereka akan serta merta mencap sebagai pragmatis. Mahasiswa idealis yang berubah menjadi pragmatis begitu lulus kuliah.

Contoh lainnya adalah kebalikan dari itu. Seorang mahasiswa yang dari awal pragmatis, mentargetkan lulus kuliah cepat, dengan IPK tinggi, dan mengantongi beragam sertifikat dari berbagai organisasi, begitu lulus langsung bekerja, bila nyantol di perusahaan besar lebih baik, tapi jika tidak lompat-lompat dari satu tempat ke tempat lain tidak buruk, lalu bekerja keras mencapai level yang lebih tinggi di perusahaan, menikah, lalu punya anak dan hidup sejahtera. Itu semua adalah rencana hidupnya, tapi begitu ia merasakan bekerja di perusahaan besar, tiba-tiba ia menjadi berpikir: sebenarnya untuk apa aku hidup? Untuk apa aku bekerja? Apakah semata karena kesejahteraan? Akhirnya ia pun bisa menuju jalan yang berbalik arah, ia memilih bekerja sosial yang tidak dibayar pun tidak apa-apa. Kalau orang bilang, mahasiswa tipe ini adalah mahasiswa pragmatis yang menjadi idealis

Contohnya ulasan yang saya dapat dari beberapa mahasiswa terhadap “pragmatisme mahasiswa modern”  dan “Idealisme sebagai mahasiswa modern” adalah sebagai berikut:
PRAGMATISME MAHASISWA MODERN
IDEALISME SEBAGAI MAHASISWA MODERN
1. Secara pragmatis mahasiswa harus mendapatkan nilai bagus, lulus cepa dan berdasarkan keinginan orantua/ peningkat derajat sampai pelengkap gengsi.2. Bahwa pragmatisme itu penting dalam kehidupan sosial tetapi bukan pada pengertian pragmatisme “egoisme”.3. Secara tahap perkembangan era global sepreti ini pragmatis terhadap keadaan sosial menjadikan efek negative yang diperoleh, layaknya, kehidupan menuntut untuk cepat dan instant, kemudia “Modernis” konteks hubungan sosial masyarakat.
1. Idealisme menurut mereka harus memiliki dasar pemikiran terhadap perilaku, peran dan fungsi sebagai mahasiswa yaitu “agent of changes”. Jadi pragmatisme mahasiswa terhadap perkembangan sosial masyarakat harus di imbangi dengan idealisme mahasiswa sebagai agen perubahan, artinya tidak hanya menunjukkan idealism untuk merubah tetapi sifat dalam pandangan pragmatisnya lebih menekankan egoisme dan kepentingan saja (berimbang).2. Penggunaan idealisme harus realistis dan rasional terhadap interaksi sosial dan tumbuh kembang disegala bentuk kehidupan sosial, pengertinya ada pada bagaimana mahasiswa mengaplikasikan ilmu yang didapat dari bangku kuliah untuk berinteraksi ke masyarakat secara real/ nyata. Tentu dengan melihat keadaan sekitar, bukan berorientasi pada tujuan tertentu.3. Sedangankan idealisme dalam ruang lingkup akademis, masih terkungkung pada pragmatisme sebatas interaksi sosial mereka, pertemanan, golongan, organisasi, atau bisa di katakana idealisme ikut-ikutan. Contohya tanpa melihat esensi yang diusung (hanya ingin ikut eksis).
Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa idealisme mahasiswa di era modern ini berpaku pada kebutuhan diri masing-masing, dengan pandangan pragmatisme semata dalam melihat perkembangan dan persaingan di era global ini. Menjadi seorang mahasiswa hanyalah menuntut eksistensi diri secara akademis dan non akademis, sangatlah tidak seimbang ketika terjun kemasyarakat nantinya karena ilmu yang didapat tidak menguraikan/ mengaplikasikan kemampuan secara verbal terhadap masyrakat, bukankah mahasiswa dengan idealisme sebagai agent of changes membutuhkan karakter yang bagus dari pendidikan bangku kuliah, namun nyatanya hanya berbalik pada tujuan dan kebutuhan diri secara pragmatis saja

Apakah menjadi pragmatis itu buruk? Apakah menjadi idealis lebih baik? Sesungguhnya menjadi pragmatis atau idealis adalah tergantung situasi. Masalahnya adalah di mana orang itu bersikap idealis dan di mana ia bersikap pragmatis. Mahasiswa mungkin tidak benar-benar menjadi pragmatis atau benar-benar menjadi idealis. Kedua sikap tersebut meski terdengar bertentangan, tapi bisa saja ada dalam diri orang yang sama.itulah kenyatanya dilapangn cobalah bercermin inikah saya ?? ( buat gua juga sih)


Kembali ke semester 1 ketika saya menjadi mahasiswa baru, saya temui berbagai macam tipe watak dari kakak tingkat , dan saya diam diam mengawasi tindak tanduknya, dan hipotesa benar, apel yang manis terkadang diberi pemanis buatan (eh jadi inget stroberi yang di tangkupan perahu dikasih pemanis buatan, anak biologi dibohongin... huhu gak mempan)

yang saya temui di lapangan mahasiswa sudah digiring untuk menjadi pragmatis sejak masa awal menjadi mahasiswa. Dalam seminar-seminar atau acara-acara penyambutan mahasiswa baru tak jarang dihadirkan senior yang sukses secara material. Pernah dihadirkan orang yang suka demo, membantu negosiasi biaya masuk mahasiswa miskin, atau mahasiswa sejenis itu? Kalau mahasiswa jenis itu tidak punya prestasi yang bisa dibanggakan selain demo-demo, jangan harap mereka bisa duduk di bangku kehormatan menyambut mahasiswa baru. Tidak hanya di dalam acara penyambutan mahasiswa baru, di setiap kuliah, setiap dosen mendorong mahasiswanya agar berprestasi secara akademik, secara organisasi, dan bekerja dengan baik, mencapai karir tinggi. Dosen-dosen mendengungkan hal itu, hidup enak dan kesuksesan secara material. Tak jarang mereka pun menghina yang berdemo, mengatai yang suka demo nilainya jelek,mengecewakan orangtua, tidak berguna untuk masa depan dan pandangan negatif lainnya. Hal ini bisa ditemui tidak hanya di fakultas yang mahasiswanya jarang berdemo, tapi juga di fakultas lain, walaupun intensitasnya lebih sedikit, tentu saja.

Kesempurnaan bukan milik manusia. Hak itu telah dipatenkan sang pencipta. Manusia hanya diberi ruang untuk selalu menambah setiap kurang yang ada di dunia. Proses pencapaian ke bilik kesempurnaan akan selalu terhenti di batas yang hakekatnya tak terbatas.
dari berbagai sumber dengan pengubahan seperlunya

http://ryzaamirethi.blogspot.com/2011/02/idealis-vs-pragmatis.html
http://ryzaamirethi.blogspot.com/2011/02/idealis-vs-pragmatis.html

     




Tidak ada komentar: